Strategi Nutrisi Ternak: Memahami Pakan Selfmix, Pakan Pabrikan, dan Keunggulan Fermentasi
Dalam dunia peternakan, pemilihan jenis pakan adalah kunci utama penentu keberhasilan profititas. Secara garis besar, terdapat tiga metode pemberian pakan yang umum digunakan: Selfmix (racikan mandiri), Pakan Pabrikan (siap saji), dan Pakan Fermentasi. Masing-masing memiliki karakteristik, proses pengolahan, dan efisiensi nutrisi yang berbeda.
1. Pakan Selfmix: Fleksibilitas dalam Formulasi
Metode ini memungkinkan peternak memegang kendali penuh atas bahan baku. Terdapat dua kategori dalam metode ini:
- Selfmix Murni (Raw Material): Peternak menyusun formulasi dari nol menggunakan bahan baku mentah seperti jagung, bekatul, Soybean Meal (SBM), Meat Bone Meal (MBM), hingga Fish Meal. Keunggulannya, peternak bisa menyesuaikan nutrisi secara presisi untuk fase starter, grower, hingga finisher hanya dengan mengubah komposisi bahan yang sama.
- Semi Selfmix (Berbasis Konsentrat): Ini adalah solusi bagi peternak dengan keterbatasan modal atau gudang. Peternak cukup membeli "konsentrat" buatan pabrik (biasanya protein 30-40% dan energi 2500 kkal/kg) lalu mencampurnya dengan bahan lokal seperti jagung dan dedak. Cara ini lebih praktis karena stok bahan baku tidak perlu dalam jumlah besar.
2. Pakan Jadi Pabrikan: Kepraktisan dengan Teknologi "Cooking"
Pakan ini sering disebut sebagai pakan "matang" yang siap saji (contoh: BR1, 511, dll). Anda tidak perlu lagi menambah bahan tambahan karena nutrisinya sudah distandarisasi sesuai usia ternak.
Keunggulan pakan pabrikan terletak pada proses produksinya yang menggunakan mesin extruder dengan tekanan tinggi dan injeksi uap panas (suhu 80-90°C). Proses yang disebut gelatinasi ini memecah ikatan kompleks pada pati, sehingga nutrisi lebih mudah diserap oleh tubuh ternak dibandingkan pakan mentah.
Namun, riset menunjukkan bahwa pakan pabrikan sekalipun masih menyisakan sekitar 20-30% nutrisi yang tidak terserap dan terbuang melalui kotoran, yang nantinya memicu munculnya gas amoniak di kandang.
3. Pakan Fermentasi: Solusi Efisiensi Maksimal
Fermentasi adalah teknik untuk "memanen" nutrisi yang sebelumnya terperangkap dalam serat kasar bahan pakan. Melalui bantuan mikroba atau ragi, ikatan karbohidrat dan serat yang kompleks diurai menjadi senyawa sederhana.
Mengapa Fermentasi Lebih Unggul?
- Penyerapan Tinggi: Jika pakan biasa menyisakan 20-30% limbah nutrisi, pakan fermentasi hanya menyisakan 5-10% saja. Hal ini dibuktikan dengan kotoran ternak yang lebih kering dan tidak berbau menyengat (rendah amoniak).
- Kecepatan Proses: Dengan teknologi mikrobia yang tepat, proses fermentasi bahan berserat tinggi bahkan bisa selesai dalam waktu 8-12 jam saja.
- Efek Lapangan: Ternak cenderung makan lebih sedikit namun tumbuh lebih cepat. Efisiensi ini mempercepat masa panen dan menjaga kesehatan ternak secara global.
Bukti Nyata di Lapangan
Uji coba pada ayam broiler menunjukkan hasil yang signifikan. Penggunaan pakan jadi yang difermentasi ulang mampu mengejar ketertinggalan bobot badan (Body Weight). Dalam kasus tertentu, ternak yang awalnya tertinggal 2 hari dari standar manajemen, mampu mengejar target hanya dalam waktu satu minggu setelah beralih ke full pakan fermentasi.
Kesimpulan
Memilih pakan bukan sekadar soal harga, tapi soal seberapa banyak nutrisi yang mampu dikonversi menjadi daging atau telur. Mengolah kembali pakan pabrikan dengan teknik fermentasi merupakan langkah cerdas untuk menekan biaya dan memaksimalkan potensi pertumbuhan ternak Anda.
Sumber diolah dari: Bumi Ternak Betha (2021)
0 comments:
Post a Comment